Salah satu euforia yang umum jika ada film baru yang (konon katanya) bagus adalah pengen nonton secepatnya bahkan bila perlu nonton saat pemutaran perdana. Well, saya sering seperti itu dan kebanyakan gagal. Seringnya malah tidak jadi nonton :p. Pun dengan The Raid, yang diklaim film dalam negeri. Saya sih lebih suka menyebut The Raid itu film luar yang memakai pemeran lokal dan set di nusantara ini (semacam Slumdog Millionair). Euforia The Raid begitu hebat di nusantara ini baik dari obrolan muda-mudi, ocehan di twitter, bahkan sampai ke media massa. Sampai-sampai rasa-rasanya nggak ada film lain yang layak tonton selain The Raid. Salah satu korbannya ada The Hunger Game. Konon The Hunger Game ini lagi merajai Box Office di negeri asalnya sono (7,2 IMDB’s Rate dan 85% di Rottentomattoes).
Jujur, saya nonton Hunger Game juga karena belum keturutan nonton The Raid. Kenapa bisa nggak keturutan?, yaa, itu nanti saja, bisa jadi 2 atau 3 postingan blog sendiri
. Bermula dari ajakan iseng di group whatsapp, sampai akhirnya ada ajakan serius dan saya dibelikan tiket (memang saya paling males kalo disuruh ngantri beli tiket :p) maka jadilah saya nonton film ini.
The Hunger Game adalah film adaptasi buku pertama dari seri novel yang sudah dulu terkenal karya Suzzane Collins, The Hunger Game Trilogy. Buku kedua, Catching Fire, kabarnya akan juga difilmkan, sekarang konon sedang dalam tahap produksi dan menurut rencana akan rilis tahun 2013.
Sebagai film adaptasi, tentunya film ini akan selalu dibandingkan dengan versi novelnya. Seperti halnya Harry Potter, The Chronicle of Narnia, The Golden Compas, Lord of The Ring… kalo Twilight gak usah dibahas aja ya
. Beruntung saya belum membaca novel ini, mau baca gimana? lha saya tahu kalo ada novel The Hunger Game juga karena nonton filmnya duluan
, jadi saya merasa lebih menikmati menonton film ini kemaren.
Film ini berkutat pada Katnis Everdeen (Jennifer Lawrence), gadis muda dari District 12 yang terpaksa mengikuti turnamen (permainan) tahunan yang bernama “Hunger Game”. Dimana dalam “Hunger Game” orang terakhir yang masih hidup adalah pemenangnya. Sejatinya inti permainan ini adalah bagaimana bertahan hidup tapi karena jiwa kompetisi para pesertanya maka berubah menjadi permainan “Pemburu dan Yang Diburu”.
Tribute (peserta wakil dari tiap Distict) dipilih dengan diundi. Menjadi Tribute dalam turnamen ini ibarat mendapat hukuman mati bagi pemuda-pemudi itu. Walaupun beberapa District secara khusus mempersiapkan Tributes mereka namun meraka tetap saja remaja yang baru berusia belasan.
Walaupun masuk dalam genre action-drama jangan coba-coba mengajak anak/adik kecil anda menonton film ini karena pada beberapa scene ada adegan pembunuhan yang rasanya belum pantas dilihat anak usia 13/14 tahun kebawah. Tentunya adegan disini tidak sesadis seperti film saw atau dexter tapi rasanya nggak cocok saja dilihat anak kecil
.
Secara keseluruhan saya suka film ini, terlepas saya nonton dengan siapa #eh. Aliran cerita walaupun sedikit cepat tapi masih nyaman diikuti, setting dan efek, emosi pemain, koreografi perkelahian semua terasa pas.
Satu lagi yang saya suka dari film ini adalah OST-nya. Yang pertama, “Save and Sound” alunan gitar akuistik The Civil War dipadukan lirik yang dilantunkan suara lembut Taylor Swift terasa sangat klop dengan film ini. Yang kedua adalah “Abraham’s Daughter”, dinyanyikan oleh Arcade Fire entah kenapa saya suka alunan instrument-nya
.
Kalo penasaran sama OST-nya nih silahkan lihat
This event held on December 2011, It was cloudy all the day long that day. Several months later this event is held again on February 2012. Quite short time gap right.
Lanjutan dari Escaping Jogja #1
Pukul 06.00 pagi kami sudah bersiap menunggu di restoran. Kami sudah ada janji dengan tukang ojek yang rencananya akan mengantarkan kami berkeliling. Iya, kami memilih menyewa jasa tukang ojek untuk berkeliling obyek wisata. Tarif yang diminta Rp.50.000,- untuk seharian.
Candi Ceto
Tempat pertama yang kami tuju adalah Candi Ceto (huruf “o” dibaca seperti saat mengucapkan “baju koko”, tempat terjauh dari penginapan. Menurut Mas Adi, tukang ojek yang saya tumpangi, perjalanan menuju Candi Ceto memakan waktu kira-kira setengah jam. Dengan ketinggian lebih dari 1400 mdpl bisa dibayangkan jalan yang harus kami lalui. Beruntung sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan yang menawan, kebun teh, lahan sayuran, dan jika anda beruntung anda bisa merasakan sensasi berkendara ditengah kabut. woooww…
Waktu menunjukkan pukul 07.30 ketika kami sampai di depan pos tiket. Sepertinya kami pengunjung pertama hari itu. Tiket masuk Candi Ceto seharga Rp.3.000,-.
Candi Ceto ini terdiri dari beberapa tingkatan. Konon tingkatan itu menggambaran perjalanan hidup manusia.
Curug Parang Ijo
Puas melihat-lihat area Candi Ceto, kami melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya, Curug Parang Ijo.
Di Curug ini kami bukan pengunjung pertama (gagal pertamax deh… eh) tapi serunya loket retribusi masuk masih kosong tidak berpenghuni
. Tapi kami bayar retribusi masuk juga lho waktu pulang Rp.2.500,- per orang.
Curug Parang Ijo sudah dikelola dan dirawat dengan baik terlihat dengan “walking track” yang tertata rapi.
Yang sedikit disayangkan puncak curug ini terbuat dari beton. Mungkin untuk memperkuat supaya tidak mudah longsor sekaligus supaya curahan Curug lebih besar.
Curug Jumog
Masih diantar Mas Adi dan kawan-kawan kami menuju target selanjutnya Curug Jumog. Curug ini sebenarnya dekat dengan penginapan kami kira-kira hanya 10 menit dengan berjalan kaki.
Dari sekian banyak Curug yang pernah saya datangi (sebenarnya cuma beberapa sih :p) yang paling membuat kesal adalah akses jalan menuju Curug itu sendiri. Karena biasanya letak Curug ini tersembunyi dalam lembah.
Tapi hal itu tidak saya temui disini. Akses menuju Curug sudah sedemikian baiknya dan tentunya terawat. di dasar lembah ternyata sudah terdapat warung berjejer yang menyediakan makanan. Menu yang tersedia mulai dari mie rebus sampai sate kelinci. Yang menarik meja-meja untuk menyantap makanan ditata sedemikia rupa di sepanjang aliran sungai. Terbayang kan betapa nikmatnya menyantap sate diiringi gemericik air.
Waktu kami di Curug ini pengunjung bisa dibilang sudah ramai, padahal masih pagi. Konon Curug ini memang jadi primadona di Karanganyar. Dan pastinya pengunjung didominasi pasangan muda mudi
.
Candi Sukuh
Matahari sudah semakin meninggi kami pun beranjak menuju target terakhir, Candi Sukuh. Sebenarnya tahun kemaren saya sudah pernah ke Candi ini sayangnya cuma sampai di tempat parkir karena hujan lebat waktu itu
.
Candi yang mirip piramida Suku Maya ini memiliki susunan yang hampir sama dengan Candi Ceto, bertingkat-tingkat. Pun dengan kisah yang diukir pada relief. Mengisahkan tentang Penghapusan Bala.
Yang menarik dari Candi Sukuh selain bentuk bangunan utama yang mirip piramida Suku Maya adalah Relief 3D.
Matahari sudah hampir tepat di atas kepala, kami bergegas kembali ke penginapan untuk Check Out dan bersiap kembali ke Jogja.
Kembali ke Jogja
Rute yang kami ambil untuk kembali ke Jogja sama dengan rute berangkat hanya saja untuk menuju Terminal Karangpandan kami menggunakana jasa Mas Adi dan kawan-kawan lagi.
Sempat tertahan karena tertinggal kereta di Stasiun Solo Balapan kami akhirnya sampai juga di Jogja menjelang waktu ashar.
Kira-kira liburan panjang berikutnya enaknya melarikan diri kemana lagi ya ?
Jogja. Kota istimewa, kota pelajar, kota budaya, kota wisata dan berbagai sebutan lainya. Kota wisata, sebutan ini bukan hanya embel-embel slogan pemanis nama kota belaka. Dipusat kota ada Lingkungan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kebun Binatang Gembira Loka, Museum Monjali serta ada pula Tugu Jogja. Tempat yang terakhir entah mulai kapan sepertinya jadi spot foto wajib kalau berkunjung ke Jogja.
Begitu juga disekelilingnya, mulai di sisi utara ada Gunung Merapi yang menawan, Museum Ulen Sentalu, Taman Wisata Telogo Putri dan yang sedang populer : Kinahrejo. Sebenarnya saya kurang srek menyebut Kinahrejo sebagai obyek wisata apalagi dengan embel-embel “Bencana” ?!.
Bergeser ke sisi Timur ada deretan candi-candi, mulai dari yang sudah populer dari Kompleks Candi Prambanan, Kompleks Ratu Boko, sampai yang kurang populer tapi mempesona seperti Candi Ijo dan Candi Mbarong. Jangan lewatkan juga Gunung Api Purba Nglangeran.
Menyeberang ke sisi barat ada deretan Pegunungan Menoreh lengkap dengan Goa, Air Terjun (Curug) dan Landscape yang memanjakan mata. Dan tentunya wisata yang sudah terkenal sejak dahulu kala, Pantai Parang Tritis di pesisir Jogja. Anda penikmat kuliner? silahkan ke Pantai Depok di sebelah Pantai Parang Tritirs, Pantai Kwaru di Bantul atau Pantai mBaron di Gunung Kidul. Bicara Gunung Kidul rasanya tidak lengkap kalau tidak menyebut jajaran pantai eksotik di kabupaten ini. Ada Pantai Siung, Indrayanti, Sundak, Sadranan, Wedi Ombo dan masih banyak lagi yang menunggu untuk anda dikunjungi.
Wow, lengkap sekali tempat wisata di Jogja. Maka tak heran jika Jogja selalu diserbu wisatawan jika musim liburan, libur panjang atau sekedar week end.
Sekarang, bisa anda bayangkan suasana Jogja pada waktu-waktu itu? Padat! baik jalanan atau tempat-tempat umum lainnya. Efeknya untuk orang yang tinggal di Jogja seperti saya ini adalah malas keluar rumah!. Sekali lagi coba anda bayangkan, apa yang anda rasakan jika waktu libur tiba dan anda tinggal di kota wisata dengan banyak pilihan tempat wisata tapi anda hanya bisa berdiam diri “terkurung” dirumah? Sedih pastinya
.
Libur Imlek
Bulan Januari ini ada libur panjang selama 3 hari bertepatan dengan Hari Imlek. Tidak ingin lagi-lagi “terjebak” di Jogja saya merencakan sebuah trip kecil, awalnya saya merencakan ke Malang tapi karena suatu lain hal tujuan saya alihkan ke Dieng dengan target utama Puncak Sikunir. Tujuan sudah, selanjutnya mencari partner. Entah kenapa sepertinya saya belum pede jika harus melakukan trip sendirian. Saya ajak Yuda. Rupanya bukan saya sendiri yang merasa “terkurung” di Jogja kalau masa liburan datang. Ketika saya ceritakan rencana Trip ini kepada gerombolan saya ternyata Indomie, Paklik dan Angga juga tertarik ikut. Oke, partner sudah, malah lebih banyak dari yang direncakan.
Yang menarik dari Puncak Sikunir adalah pemandangan ketika matahari muncul dari ufuk timur (Sun Rise), untuk bisa menikmati Sun Rise cara paling nyaman adalah menginap di Dieng atau Wonosobo. Penginapan jadi persiapan selanjutnya. Kebetulan saya punya teman pribumi Wonosobo yang sekarang berdomisili di Jogja, Friend, menurut rencana Friend dan keluarga kecilnya akan mengunjungi orang tua-nya di Wonosobo. Sebagai upaya menghemat biaya, kami berencana menginap di rumah orang tua Friend. Dan waktunya memang pas, jadi masalah penginapan beres sudah, plus urusan perut :p.
Manusia memang boleh berencana tapi Tuhan yang mengijinkan *halah*, Entah kenapa saya selalu tidak berhasil menuntaskan rencana perjalanan yang sudah saya rancang dengan matang. Begitu juga untuk trip kali ini. Sang penyedia penginapan (dan urusan perut :p) berubah pikiran menunda waktu pulang kampungnya. Bingunglah saya mencari penginapan (yang tidak gratis). Dan karena bertepatan dengan libur panjang sudah dapat dipastikan penginapan-penginapan itu penuh
. Sudah terbayang 3 hari kedepan akan saya habiskan di dalam kamar sambil menonton tipi atau mendengarkan radio.
Ajakan Mendadak
Pukul 8 pagi saya terbangun, handphone saya bergetar tanda ada pesan whatsapp masuk. Ternyata dari gerombolan saya, pesannya dari Indomie yang isinya ajakan trip ke Sukuh, nama sebuah candi di Karanganyar. Karena saya kira cuma ajakan iseng seperti biasanya saya balas sekenanya kemudian saya tinggal mandi.
Selesai mandi saya lihat handphone setidaknya ada 2 SMS masuk dan miss call, dari Indomie. “Bebeb… jam 10 langsung ke Stasiun Tugu semua sudah kita atur, langsung packing ya. Minggu siang kita pulang”. Saya langsung ambil tas besar, kamera, kaos dan peralatan mandi.
Sampai Jembatan Kewek jam digital di handphone saya menunjuk angka 10.22. “Bebeb… cepetan keretanya udah datang” suara Indomie dari dalam handphone. Panik! Ketinggalan kereta! Gagal lagi!?
Beruntung jalan kearah Stasiun Tugu tidak begitu padat, tapi saya masih harus lari-lari sepanjang terowongan bawah tanah Stasiun Tugu, takut ketinggalan kereta. Iya, saya juga baru tahu, Stasiun Tugu ternyata punya terowongan bawah tanah yang menghubungkan peron utara dan pintu masuk selatan.
Saya baru tenang setelah melihat kereta kuning di lintasan nomor 1 dengan pintu masih terbuka lebar dan masih sepi muatan.
Menuju Sukuh
Sukuh terletak di Kabutapen Karanganyar, sekitar 14Km arah timur Solo. Rute yang kami pilih adalah Jogja-Solo-Karangpandan-Nglorog.
Kami memilih menggunakan Kereta Prameks untuk menuju Solo dengan harga tiket Rp.10.000,-. Kereta yang saya tumpangi berangkat dari Jogja jam 10.30 dan tiba di Stasiun Solo Bapalan jam 11.30. Selanjutnya kami menuju Terminal Tirtonadi. Kami memilih berjalan kaki menuju Terminal Tirtonadi yang berada di sebelah utara dari Stasiun Solo Balapan, waktu yang dibutuhkan kurang dari 15 menit.
Setelah sampai di Terminal Tirtonadi, kami langsung mencari bus jurusan Tawangmangu, biasanya di daerah tenggara terminal. Sepengetahuan saya ada 2 P.O. yang beroperasi di jalur Solo-Tawangmangu, Langsung Jaya dan Gaya Putra. Saat itu Langsung Jaya yang sudah bersiap berangkat. Jadilah kami menumpang Langsung Jaya. Untuk sampai Terminal Karangpandan kami dikenai tarif Rp.10.000,- per orang. Belakangan kami tahu tarif Solo-Karangpandan berkisar di Rp.7.000,- per orang. Hampir 2 jam perjalanan Solo-Karangpandan, bukan karena jauh tapi karena kelamaan nunggu penumpang (nge-tem). Oh iya, bus Solo-Karangpandan ini semua tanpa AC jadi siap-siap berkeringat
.
Setelah sampai di Terminal Karangpandan kami istirahat sejenak untuk sholat dan makan. Ada mushola di belakang terminal ini, diluar kompleks terminal. Untuk urusan perut, karena tidak punya referensi kami memilih warung mie ayam di terminal, harga dan rasa wajar, Rp.6000,- per orang untuk makan dan minum.
Tujuan selanjutnya adalah Pertigaan Nglorog atau Sukuh. Untuk menuju tempat ini bisa menggunakan minibus 1 pintu atau mobil kecil (charteran). Kami memilih menggunakan minibus dengan tarif Rp. 3.000,- sampai Pertigaan Nglorog. Walaupun padat muatan tapi tenang keringat anda tidak akan bercucuran, karena udara dingin sudah mulai terasa selama perjalanan menuju Nglorog.
Setelah sampai di Pertigaan Nglorog anda bisa menggunakan ojek untuk menuju Candi Sukuh. Dengan ojek anda cuma butuh waktu kira-kira 10 menit. Moda alternatif lain adalah dengan berjalan kaki
, estimasi waktunya sekitar 15-20 menit. Karena masih siang ditambah udara sejuk serta pemandangan yang menggoda kami putuskan untuk berjalan kaki menuju Candi Sukuh.
Satu hal yang luput dari kami adalah, Candi Sukuh terletak pada ketinggian kira-kira 1200-an dpl yang berarti jalan menuju Candi berupa jalan menanjak!. Alhasil baru 2/3 jalan kami sudah kepayahan. Beruntung Cottage tempat kami akan menginap terletak di jalan menuju Candi Sukuh, jalan yang kami lalui itu. Kami memutuskan Check-In dulu sembari beristirahat dan mengunjungi Candi Sukuh pada sore hari.
Menginap di Sukuh
Cottage tempat kami menginap bernama Sukuh Cottage & Resto. Sebelumnya saya tidak tahu sama sekali Sukuh Cottage ini seperti apa, tapi dari namanya saja pikiran saya berkata pasti mahal harga sewanya. Dan begitu sampai di gerbang… wow… ini pasti beneran mahal!.
Kamar yang kami sewa adalah kamar dengan fasilitas 1 buah double bed, tipi, kamar mandi lengkap dengan air panas, paket welcome drink (air putih, air panas, kopi, teh), dan paket sarapan untuk 2 orang. Harga yang harus kami tebus adalah Rp. 290.000,-.
Dengan harga tersebut dibagi bertiga? dengan fasilitas seperti itu? oke saya bisa terima
.
Dari ruang resepsionis kami diantar Bapak Penjaga (ngga tahu namanya) yang ramah ke kamar kami. Sukuh Cottage ini berada di lereng yang dibuat bertingkat-tingkat dan kamar kami ternyata berada ditingkatan paling bawah. Di Sukuh Cottage ini juga terdapat pelataran yang agak luas, dari pelataran ini tamu bisa menikmati hamparan kota Karanganyar dan Solo yang mempesona. Selain dari pelataran ini, tamu juga bisa menikmati pemandangan dari bungalow kecil yang tepat berada di depan kamar kami. wooow…
Sebenarnya untuk meminta extra bed kami hanya perlu menambah Rp.75.000,- berhubung kami berbadan langsing semua jadi kami hanya meminta tambahan bantal dan selimut dan ini gratis ternyata
.
Beberapa saat menikmati udara sejuk dan pemandangan, hawa dingin mulai menusuk, ternyata kabut tebal mulai turun menyelimuti penginapan disertai gerimis. Sepertinya hanya Paklik yang menikmati suasana ini. Saya memilih masuk kamar sambil melihat tipi, sedang Indomie masih diluar berbungkus jaket menemani Paklik. Beberapa saat kemudian kedua orang itu masuk ke kamar, ternyata hujan lebat di luar. Batal sudah rencana kami ke Candi Sukuh di sore hari, padahal konon Sunset di Candi Sukuh cukup bagus.
Malam menjelang dan perut mulai keroncongan, sayangnya dalam perjalanan tadi kami tidak menemukan warung makan di sekitar penginapan. Ditambah hujan diluar… brrr… pengen langsung tidur saja rasanya. Beruntung selepas Maghrib, Mbak Penjaga (nggak tahu juga namanya) mengetuk pintu dan menawarkan makan di Restoran Sukuh Cottage. Saya pesan nasi Goreng seharga Rp.12.500,- dan Wedang Teh Jahe seharga Rp. 6.000,-. Untuk porsi, rasa, ditambah bonus pemandangan hamparan kerlip lampu dari Restoran ini saya anggap harga tersebut Pas!.
Selesai makan kami beranjak kembali ke kamar, bersiap untuk perjalanan esok hari.
Lanjut ke Escaping Jogja #2
![]()
Satu hal yang perlu anda ketahui. Saat anda membaca tulisan ini berarti saya sudah ada di “Nirvana”. Jangan tanya seperti apa disana, apakah ada bidadari-bidadari bermata jeli? apakah ada sungai-sungai yang mengalir dibawahnya? Eits…. tunggu…. ini bukan Nirvana yang itu >.<. Ya sebenernya danpasti pengen ke Nirvana yang itu tapi besok lah (insyaallah, amiiin ... !!!).
Jadi Nirvana apa dong?. Anda pernah dengar SocMed bernama Plurk? Iya… SocMed yang jaman baheula itu. Jadi, Plurk memberikan reward kepada penggunanya dalam bentuk karma, nah saat karma ini mencapai point tertentu Plurk akan memberikan reward tambahan berupa emoticon, dll. Nanti jika poin karma sudah mencapai 100 maka pengguna akan mencapai “Nirvana”, saat saya buat tulisan ini poin karma saya adalah 100,1 jadi officially saya sudah mencapai “Nirvana”. Setelah hampir 3 tahun akhirnya … *terharu

Loh kok lama banget baru nyampe “Nirvana”, yang lain udah pindah ke twitter ini baru nyampe…
Errr… saya ini tipe setia jadi ngga segampang itu pindah-pindah. Soal kenapa lama banget ?! errr… saya juga bukan tipe yang aktif di SocMed, jadi ya begitulah adanya …
Dulu saya pernah berujar kalo nanti udah sampai “Nirvana” saya akan berhenti Nge-Plurk. Emmm… jadi berhenti atau tidaknya akan kita lihat nanti :p
Baseball, komedi romantis dan persahabatan yang hebat. Setidaknya 3 hal itu yang selalu saya temui dalam manga (komik) karya Adachi Mitsuru yang saya baca. Sampai sekarang ada 2 seri manga karya Adachi yang sudah saya baca: Cross Game dan H2. Dikenalkan oleh seorang teman, pertama kali saya tahu karya Adachi adalah dari serial anime Cross Game. Seorang teman yang lain kemudian berujar bahwa karya Adachi lebih bisa dinikmati dalam versi komik (manga). Saya menikmati keduanya …
.
Sebenarnya dalam karya-karya Adachi karakter tokohnya hampir-hampir mirip (kalau tidak boleh dibilang sama), pun dengan ceritanya. Guideline cerita dari Cross Game dan H2 adalah perjuangan untuk Koshien. Koshien adalah sebuah tempat / turnamen Baseball SMA tingkat nasional di Jepang. Dalam perjuangan menuju koshien Adachi menyisipkan bumbu-bumbu percintaan remaja ala Jepang, persahabatan, dan sportifitas dalam persaingan yang mengagumkan (bagi saya).
Kesamaan yang lainnya adalah saya menyelesaikan kedua seri manga tersebut di sela-sela jam kerja … *ups. Bukan sesuatu yang harus dibanggakan dan yang pasti tidak patut untuk ditiru
.
Saya heran kenapa membaca manga yang karakter tokohnya sama, cerita juga hampir sama tapi masih saja perasaan saya dibuat teraduk-aduk mengikutinya *eh… Saya bisa merasakan kesedihan Ko dan Aoba serta ikut bersedih ketika Wakaba meninggal, pun apa yang dirasakan Hiro dan Hikari ketika ibu Hikari meninggal. Saya juga bisa ikut merasakan kegembiraan Ko ketika berhasil mendapat tiket ke Koshien, pun kegembiraan Hiro ketika berhasil mengalahkan Hideo (sahabat dan rivalnya).
(Bukan bermaksud ikut-ikutan…) Yang membuat saya heran lagi kenapa sensasi perasaan seperti itu tidak bisa didapat ketika menonton Sinetron di Nusantara ini. Dari karakter tokoh juga seperti itu-itu saja apalagi dari sisi cerita juga sama saja …
In: Harian
7 Oct 2010Iseng buka dashboard eh ternyata ada draft yang belum selesai ditulis. Walaupun udah lama banget gpp lah …
![]()
Saya ditolak jadi pengajar muda di Indonesia Mengajar.
Program Indonesia Mengajar adalah program dari Yayasan Indonesia Mengajar, saya kurang tahu siapa saja yang memprakarsai program ini tapi yang saya tahu ada Anies Baswedan di belakang layar. Dalam program ini Yayasan Indonesia Mengajar mengundang para sarjana (freshgraduate) untuk bergabung bersama dalam program mencerdaskan bangsa yaitu dengan menjadi pengajar. Nantinya para pengajar muda ini akan mendapatkan training sebelum akhirnya disebar di beberapa wilayah Nusantara. Saya salah satu yang tertarik dengan undangan itu, maka saya kirimlah lamaran untuk menjadi salah satu pengajar muda. Kalau nggak salah akhir Juli saya apply di website Indonesia Mengajar dan disebutkan short-listed candidates akan diumunkan awal Agustus.
Tanggal 7 Agustus 2010 saya mendapat email dari panitia recruitment Indonesia Mengajar… dan obviously… saya ditolak
. Rupanya semangat dan tekat saya untuk ikut membantu mecerdaskan bangsa masih kalah dengan para anak bangsa yang lain, tentunya mereka yang lolos menjadi pengajar muda. Tapi it’s ok lah… toh mencerdaskan nusantara ini tidak hanya dengan menjadi pengajar muda saja masih banyak yang bisa dilakukan. Kalimat seperti itu juga disebut oleh Anies Baswedan dalam surat penolakan yang saya terima …
.
Mengenai Indonesia Mengajar ini saya jadi ingat tentang PTM UGM. Apa itu PTM UGM ? Pengerahan Tenaga Mahasiswa UGM. Pengerahan ? pertama kali mendengar istilah ini yang ada dalam pikiran saya adalah pengerahan mahasiswa UGM untuk maju di medan perang. Mengetahui kegiatan ini dilangsungkan dari tahun 1951-1962 semakin menguatkan hipotesa awal saya, karena pada tahun-tahun itu banyak terjadi pergolakan di wilayah nusantara ini. Dan ternyata saya salah … mmm… tidak seluruhnya salah sih toh mereka (para mahasiswa dalam program itu) juga berperang walaupun tidak dengan mengangkat senjata.
Pada masa awal kemerdekaan, pendidikan di nusantara ini masih jauh dari maju terutama di daerah-daerah di luar pulau jawa. Masalah yang utama adalah kurangnya tenaga pengajar (mungkin dulu para guru juga ikut berperang). UGM, sebagai universitas pertama yang berdiri setelah masa kemerdekaan mempunyai gagasan untuk mengirimkan para mahasiswanya ke daerah-daerah yang kekurangan tenaga pengajar. Diawali dari puluhan pada tahun awal dilaksanakan sampai menjadi ratusan mahasiswa yang dikirim pada tahun berikutnya. Dari PTM ini (salah satunya) lahirlah sekolah-sekolah menengah atas di wilayah-wilayah tersebut.
Kelak PTM ini (mungkin) yang menjadi cikal bakal KKN (Kuliah Kerja Nyata), yang wajib bagi seluruh calon sarjana di UGM. Saya pernah merasakan menjadi peserta KKN (walaupun cuma di perkotaan :p). Banyak suka duka dan yang pasti banyak pelajaran hidup yang diperoleh
.
Tertarik dengan PTM UGM ? Arsip UGM sudah membuat video dokumenter tentang PTM UGM, silahkan lihat video berikut : http://media.ugm.ac.id/video/125/pengerahan-tenaga-mahasiswa–1951-1962-