Kerja

In: Harian

27 Oct 2014

Tulisan ini tidak akan membahas Kabinet Kerja yang baru diumumkan kemaren, tapi tentang “kerja”. Pernah punya pengalaman lagi banyak-banyaknya kerjaan tapi malah nggak ada yang dikerjakan? malah sibuk mengerjakan sesuatu yang malah nggak ada sangkut pautnya dengan kerjaan? Iya, kalau dalam bahasa gaulnya “procastination”.

sadar tidak sadar kita pasti sering melakukan ini, paling tidak diri saya sendiri. Yup, sama seperti saat membuat tulisan ini…

oke kembali bekerja :p

Siang itu matahari bersinar dengan penuh semangat. Seperti biasa warung Sop ini selalu ramai saat jam makan siang. Mobil dan motor pengunjung silih berganti mengisi area parkir yang tak seberapa luas, malahan sebagian memakan badan jalan.

Terlihat Juru Parkir, cukup berumur, begitu sibut mengarahkan pengunjung, maklum dia bekerja sendirian.

Ada satu masa saat beberapa pengunjung bermotor mulai meninggalkan area parkir. Sang Juru Parkir dengan tangkas memberikan arahan jalur keluar yang paling nyaman untuk pengunjung itu. Selang beberapa saat dari kejauhan datang calon pengunjung bermobil hendak memasuki area parkir. Sang Juru Parkir dengan sigap pula memberikan assist kepada pengemudi, meninggalkan motor pengunjung sebelumnya setangah jalan dari jalur keluar. Pun dengan beberapa pengendara motor yang mengantri mendapatkan assist dari Sang Juru Parkir.

Para pengendara motor berinisiatif mencari jalur keluar area parkir sendiri. Beberapa sudah berhasil meninggalkan area parkir, pun Sang Juru Parkir masih sibuk dengan pengemudi.

Padahal para pengendara motor belum juga sempat memberikan ungkapan terima kasihnya atas jasa parkir yang sudah diberikan.

Mungkin banyaknya roda lebih menarik Sang Juru Pakir ~

Ibu Pertiwi

In: Culture|Harian

2 Sep 2013

Selalu ada hal baru yang kita bisa ambil atau pelajari pun dari suatu hal yang sudah kita sangka kenal seperti telapak tangan sendiri.

Pernah mendengar lagu Ibu Pertiwi? Pasti hapal diluar kepala kan?

Kulihat Ibu Pertiwi, Sedang Bersusah Hati
Air Matamu Berlinang, Mas Intanmu Terkenang

Hutan Gunung Sawah Lautan, Simpanan Kekayaan
Kini Ibu Sedang Susah, Merintih dan Berdo’a

Pernahkah bertanya, Siapa sih sebenarnya Ibu Pertiwi ini?
Ah itu kan bukan nama, cuma personifikasi untuk Nusantara ini.
benarkah?
Nih, menurut KBBI… pertiwi itu berarti bumi, dewi yang menguasai bumi, tanah tumpah darah.
oh iya ya… tapi, pernahkan berpikir paling tidak tergelitik untuk bertanya kalau Pertiwi itu memang benar sebuah nama ?

Pernah mendengar Kerajaan Kutai Martadipura? Benar, kerajaan tertua yang pernah tercatat di sejarah Nusantara (menurut pelajaran sejarah yang saya dapat di bangku sekolah). Kerajaan Kutai atau Kutai Hindu (begitu dulu disebut dalam buku teks) didirikan oleh Kudungga, dari Kudungga ini lahir Aswawarman yang nantinya memempunyai keturunan bernama Mulawarman raja yang paling terkenal dari Kerajaan Kutai. Mulawarman disebut berhasil membawa Kerajaan Kutai mencapai puncak kejayaannya.

Sekarang, pernah mendengar nama Ratu Pertiwi? Iya, Ratu Pertiwi inilah yang dikisahkan melahirkan Mulawarman, bahkan menurut buku “Jala Sutera” dari Ratu Pertiwi pula silsilah Purnawarman, raja terlama Tarumanegara, dimulai. Dari sinilah cikal bakal anak turun pendiri kerajaan-kerajaan pada masa itu sampai pada berdirinya Majapahit yang menjadi tonggak awal berdirinya nusantara.

Saya sendiri belum membaca buku “Jala Sutera”, tapi jika memang benar seperti itulah adanya maka Ibu Pertiwi bukan hanya sebuah personifikasi belaka, Ibu Pertiwi adalah benar Ibu dari nusantara ini.

Menarik memang menggali akar budaya nusantara ini. Yang lebih menarik adalah saya mendapat informasi mengenai Ibu Pertiwi ini dari konser Iwan Fals kemaren di Kridosono :D

Berawal dari pertanyaan saudara tentang bagaimana cara mengetahui produk “Apple” asli apa tidak, muncullah jawaban ini…

Kebetulan Si Penanya berniat membeli produk “Apple” , cuma karena harganya yang … yaaaa cukup susah payah untuk menjangkaunya… akhirnya diniatkan untuk membeli produk “Apple” 2nd hand. Dari sini muncul kekhawatiran jangan-jangan nanti dapat produk palsu.

Karena tidak begitu mudeng dengan dunai per-“Apple”-an, saya minta bantuan teman untuk tahu tipsnya.

Dan muncullah jawaban “Kalau rasanya “Apple” pasti ya asli… ”
Haha… bener juga sih, rasa emang nggak pernah bohong … bukan ini bukan iklan mi instan kok
Trus gimana tahu “rasa”nya kalau belom pernah megang sekalipun? Gampang… pergi aja ke mac store… paling mudah dicari, tuh di Amplas, trus coba deh tuh disana :D

Nah udah deh sekarang bisa bedain mana yang asli mana yang enggak kan?

NB: sebenarnya ada sih cara yang mungkin lebih benar dari pada “ngerasain” langsung, setiap produk apple kan ada Serial Numbernya, nah tinggal cek aja serial number itu di site Apple Waranty and Support, ketahuan deh… malah tahu garansinya masih apa enggak juga lho :)

Sang Waktu

In: Harian

21 Aug 2013

Ada yang berkata Sang Waktu ramah pada yang mengabaikannya.
Sebaliknya Sang Waktu bertindak kejam pada yang menaruh perhatian padanya.
Sang Waktu akan semakin lari menjauh bila dikejar.
Namun, Sang Waktu berjalan pelan menghampiri siapa yang menunggunya.

8 Agustus 2012, terakhir blog ini tersentuh, setahun lebih sudah. Pun, tidak berharap ini satu-satunya tulisan tahun ini.

Lewat Djam Malam

In: Film

8 Aug 2012

Malam minggu cuma gegoleran di kamar? atau nonton acara gak jelas di tipi? Kalau kamu jomblo alangkah ruginya. Pergilah “hang out” dengan teman-teman (baiknya sih ada ceweknya juga, jangan cowok semua). Jalan-jalan di mall. Pergi ke pusat keramaian. Atau paling tidak pergi ke kedai kopi di dekat rumah, asal jangan di kamar terus. Dengan begitu kamu akan bertemu banyak orang, syukur dapat gebetan kalo enggak ya dapat teman baru. Nggak ada ruginya kan?!.

Oke… sepertinya nasehat buat diri sendiri sudah cukup mari lanjut ke tulisan sebenarnya. #eh

Beberapa waktu lalu di timeline saya riuh dengan sebuah film yang akan premiere di layar lebar. Bukan… bukan The Amazing Spiderman, bukan juga The Dark Knight Rises. Lho… terus apa? Lewat Djam Malam ! Baru denger? Sama! Lho… ?!

Jadi LDM ini ternyata adalah film produksi tahun 1954, belom lahir? sama. Eh bentar… jadi film tua dong? emang masih bagus kualitas gambarnya? apalagi diputer di layar lebar kan?. Nah kalo untuk itu jangan khawatir, karena film ini sengaja dipilih dan direstorasi dengan teknologi canggih supaya bisa dinikmati di layar lebar lagi. Terus siapa yang mau bayar buat proyek seperti ini? nggak mungkin pemerintan nusantara ini kan?!… Kalau itu sih udah pasti mana mau mereka keluar duit buat hal-hal seperti ini… justru kita harus berterima kasih sama dua donatur asing yaitu World Cinema Foundation dan National Museum of Singapore.

Film ini mengambil setting di Bandung, tepatnya setelah masa revolusi berakhir. Diceritakan Iskandar seorang tentara yang berusaha kembali ke kehidupan masyarakat normal. Pada masa beradaptasi itu Iskandar mengalami pergolakan batin yang cukup hebat. Soal hubungannya dengan Norma, tunangannya. Tentang idealismenya dalam bekerja. Tentang kehidupan sosial pada masa itu yang banyak diisi pesta sana sini. Tentang “hantu” dari masa lalu saat masih menjadi tentara.

Banyak yang bisa diambil dari LDM ini, yang paling nyata tentu kita bisa melihat seperti apa Nusantara pada masa itu. Karena melalui film apa yang ada pada masa itu dapat ditampilkan. Teknologi, pergaulan sosial, bahasa, dan masih banyak lagi.

Oh iya sebagai informasi, saat saya nonton LDM ini dari sekian banyak kursi di bioskop hanya 10 yang terisi. Seru bukan, kapan lagi bisa nonton dengan leluasa begitu :9

Pengingat di sore hari

In: Harian

29 Jun 2012

Disclaimer: tulisan ini bukan untuk mendiskreditkan orang atau golongan tertentu, tulisan ini murni pandangan subyektif dari penulis.

Sore itu agak berbeda dari biasanya, selepas sholat ashar saya bergegas beberes barang-barang saya dan bersiap pulang. Sebenarnya sore itu saya ingin menunaikan agenda yang sudah lama saya rencanakan dan hanya bisa dilakukan seminggu sekali seperti sore itu. Seperti biasa sebelum pulang saya mengecek tab-tab social media di browser saya. Kegiatan yang tidak berguna sebenarnya, toh saya masih bisa mengaksesnya dari handphone saya.

Secara perlahan dari balik layar monitor muncul sesosok bayangan. Saya pikir “ah paling mau bertanya tentang surat bebas pinjaman…”. Sudah hampir 1 bulan ini saya punya “tugas” ekstra sebagai “papan petunjuk informasi”, sejak Perpus Unit II bergabung jadi satu dengan Perpus Pusat banyak mahasiswa yang kebingungan dimana mereka harus mencari selembar kertas syarat wisuda itu. Seandainya saja mereka mau membaca kertas yang ditempel di pintu masuk gedung ini.

Ketika bayangan itu sampai tepat di muka pintu barulah saya mengalihkan pandangan saya dari monitor. Mata saya menangkap seorang ibu (masih muda, berbadan agak subur) sedang menggendong anaknya yang kira-kira berumur 1-2 Tahun. Sementara beberapa meter darinya, anaknya yang sudah lebih besar (4-5 Tahun) berlarian kesana kemari. Saya langsung berdiri menghampiri sambil bertanya basa-basi seperti kepada mahasiswa-mahasiswa itu “ada yang bisa dibantu?”.

Bukan menjawab, ibu itu malah sibuk dengan barang bawaannya dan memanggil-manggil anaknya dengan bahasa isyarat. Barulah beberapa saat kemudian ibu itu menggerakkan tangan kanannya diatas tangan kirinya seperti gerakan menulis, saat itu baru saya tahu… ibu ini tuna wicara. Ibu itu saya persilahkan masuk, dengan kertas dan bolpoin ibu itu mencoba berkomunikasi dengan saya. Saya coba mengikuti tulisan yang ibu itu buat.

Ibu itu meminta maaf sudah tanpa ijin, dia menulis mungkin karena kehendak Tuhan dia mampir ke sini, biasanya dia berjalan kaki terus. Kemudian ibu itu meminta bantuan untuk sudi membeli buku yang dia punya.Kemudian ibu itu pergi mengambil barang dari tas-nya.

Jujur saya agak canggung dengan adegan semacam ini, pikiran jelek saya pun sudah menggurita kemana-mana. “Ah… paling ini cuma mau minta-minta doang, nanti bilang aja gak butuh buku, gak punya duit ato mentok-mentok pake kata maaf gak bisa bantu” pikir saya. Beruntung teman saya yang kebetulan masih ada di dalam keluar menghampiri. Setelah singkat saya ceritakan siapa ibu itu… “Ya udah, dibayar aja bukunya berapa…”. Saya berpikir sejenak… “hmmm… oke…” sampai saat itu saya masih belum legowo membeli dari penjual yang berjualan dengan cara seperti ini.

Ibu itu masuk dengan membawa dua buah buku tebal bersampul warna hijau… “oh… buku terjemahan kitab kuning itu, coba tanya minta dibayar berapa?” teman saya bilang. Ibu itu mencoba berkomunikasi dengan kertas lagi. Ibu itu bercerita dia dari daerah lampung, dan dia butuh dana untuk anak-anaknya. Buku itu didapat dari orang di Demak. Dia juga menulis kalau bapak anak-anaknya sudah meninggal maka dari itu dia berjalan kaki dari lampung menuju ke daerah timur. Pikiran saya mulai bergeser membaca kata demi kata yang ditulisnya.

Saat ditanya lagi bukunya mau dijual berapa, ibu itu menulis seikhlas kalian saja, dia butuh dana buat anak-anaknya. Baru setelah didesak ibu itu mau menuliskan harga buku itu, cukup tinggi memang harga yang diminta untuk buku dengan kondisi seperti itu. Kami berdiskusi, transaksi sudah tentu kami lupakan. Melihat kondisi anak-anaknya dan (maaf) semerbak bau dari tubuh mereka, menyesal rasanya saya punya pikiran-pikiran jelek di awal pertemuan tadi.

Kami menyerahkan beberapa lembar uang kepada ibu itu, tidak sesuai dengan yang ibu itu minta memang tapi kami sudah melupakan urusan jual-beli sampai disini. “Bu, ini kami ada uang segini, silahkan diterima… bukunya mau ditinggal disini atau mau dibawa lagi silahkan terserah ibu” kata teman saya. Ibu itu berpikir sejenak sembari memanggil anaknya yang dari tadi aktif bergerak (nritik kalau kata orang sini).Akhirnya ibu itu minta buku satunya dia bawa lagi dan satunya ditinggal.

Ketika hendak pergi ibu itu menggunakan bahasa isyarat yang kami tak mengerti artinya. Ibu itu menunjuk anaknya yang lebih besar dan anak yang digendongnya secara bergantian. Ketika dia menuliskan apa yang di maksud saya sangat kaget. Saya tidak pernah menyangka seorang ibu bisa punya pikiran seperti itu. Dia menulis “Kalok mau anak saya ambil 1, saya susah kalok gak ada dana nangis”.

Saya nggak bisa berkata-kata hanya bisa memandang teman saya. Tentu saja kami tidak mau menerima permintaan ibu itu, bagaimana pun juga mengadopsi anak adalah urusan yang perlu dipikirkan secara matang. Kemudian ibu itu pergi dengan kedua anaknya.

Sebelum itu teman saya sempat bertanya “Nanti kalo uang dari kami habis, terus barang yang anda punya sudah dijual semua? apa yang mau anda lakukan?” ibu itu menulis singkat “wallahu a’lam”.

Tuhan memang punya cara yang unik untuk mengingatkan umatnya. Seperti kisah ini, saat saya merasa sedang berada didasar jurang penderitaan dunia… Tuhan mengirim ibu itu sebagai pengingat buat saya… apa itu bersyukur.

Happy Hunger Game

In: Film|Musik

2 Apr 2012

Salah satu euforia yang umum jika ada film baru yang (konon katanya) bagus adalah pengen nonton secepatnya bahkan bila perlu nonton saat pemutaran perdana. Well, saya sering seperti itu dan kebanyakan gagal. Seringnya malah tidak jadi nonton :p. Pun dengan The Raid, yang diklaim film dalam negeri. Saya sih lebih suka menyebut The Raid itu film luar yang memakai pemeran lokal dan set di nusantara ini (semacam Slumdog Millionair). Euforia The Raid begitu hebat di nusantara ini baik dari obrolan muda-mudi, ocehan di twitter, bahkan sampai ke media massa. Sampai-sampai rasa-rasanya nggak ada film lain yang layak tonton selain The Raid. Salah satu korbannya ada The Hunger Game. Konon The Hunger Game ini lagi merajai Box Office di negeri asalnya sono (7,2 IMDB’s Rate dan 85% di Rottentomattoes).

Jujur, saya nonton Hunger Game juga karena belum keturutan nonton The Raid. Kenapa bisa nggak keturutan?, yaa, itu nanti saja, bisa jadi 2 atau 3 postingan blog sendiri :D. Bermula dari ajakan iseng di group whatsapp, sampai akhirnya ada ajakan serius dan saya dibelikan tiket (memang saya paling males kalo disuruh ngantri beli tiket :p) maka jadilah saya nonton film ini.

The Hunger Game adalah film adaptasi buku pertama dari seri novel yang sudah dulu terkenal karya Suzzane Collins, The Hunger Game Trilogy. Buku kedua, Catching Fire, kabarnya akan juga difilmkan, sekarang konon sedang dalam tahap produksi dan menurut rencana akan rilis tahun 2013.

Sebagai film adaptasi, tentunya film ini akan selalu dibandingkan dengan versi novelnya. Seperti halnya Harry Potter, The Chronicle of Narnia, The Golden Compas, Lord of The Ring… kalo Twilight gak usah dibahas aja ya :). Beruntung saya belum membaca novel ini, mau baca gimana? lha saya tahu kalo ada novel The Hunger Game juga karena nonton filmnya duluan :D, jadi saya merasa lebih menikmati menonton film ini kemaren.

Film ini berkutat pada Katnis Everdeen (Jennifer Lawrence), gadis muda dari District 12 yang terpaksa mengikuti turnamen (permainan) tahunan yang bernama “Hunger Game”. Dimana dalam “Hunger Game” orang terakhir yang masih hidup adalah pemenangnya. Sejatinya inti permainan ini adalah bagaimana bertahan hidup tapi karena jiwa kompetisi para pesertanya maka berubah menjadi permainan “Pemburu dan Yang Diburu”.

Tribute (peserta wakil dari tiap Distict) dipilih dengan diundi. Menjadi Tribute dalam turnamen ini ibarat mendapat hukuman mati bagi pemuda-pemudi itu. Walaupun beberapa District secara khusus mempersiapkan Tributes mereka namun meraka tetap saja remaja yang baru berusia belasan.

Walaupun masuk dalam genre action-drama jangan coba-coba mengajak anak/adik kecil anda menonton film ini karena pada beberapa scene ada adegan pembunuhan yang rasanya belum pantas dilihat anak usia 13/14 tahun kebawah. Tentunya adegan disini tidak sesadis seperti film saw atau dexter tapi rasanya nggak cocok saja dilihat anak kecil :).

Secara keseluruhan saya suka film ini, terlepas saya nonton dengan siapa #eh. Aliran cerita walaupun sedikit cepat tapi masih nyaman diikuti, setting dan efek, emosi pemain, koreografi perkelahian semua terasa pas.

Satu lagi yang saya suka dari film ini adalah OST-nya. Yang pertama, “Save and Sound” alunan gitar akuistik The Civil War dipadukan lirik yang dilantunkan suara lembut Taylor Swift terasa sangat klop dengan film ini. Yang kedua adalah “Abraham’s Daughter”, dinyanyikan oleh Arcade Fire entah kenapa saya suka alunan instrument-nya :D.

Kalo penasaran sama OST-nya nih silahkan lihat :D

Brambanan

In: Fotografi|Harian

29 Feb 2012

Biru langit sore itu mengantarkan saya sampai pada jalur kereta ini. Brambanan.

Brambanan #1

Brambanan #2

Brambanan #3

This event held on December 2011, It was cloudy all the day long that day. Several months later this event is held again on February 2012. Quite short time gap right.

Up

parisberkata on Flickr

    Brambanan #The HunterBrambanan #Sepeda KumbangBrambanan #DoubleTrack1Brambanan #DoubleTrack2Brambanan #PrameksMain Stream #Curug Jumog3D Relief #Sukuh TempleMain Temple #Sukuh TempleRight Wing #Sukuh Temple

@parisberkata

parisberkata on Plurk