Weekend 8 dan 9 Agustus 2009 kemaren, saya dan beberapa teman pergi ke Pacitan. Kota pantai, kecil, sepi, kurang lebih seperti itu gambaran pacitan secara umum. Dan tentu saja presiden nusantara saat ini pernah lahir disana (Pak SBY), sayang saya belum berkesempatan menengok rumah masa kecil beliau
.
Jam 8 pagi saya berangkat dari Jogja, mengambil rute Wonosari-Wonogiri-Pacitan, saya tiba di pacitan sekitar pukul 11 pagi. Tujuan pertama Goa Gong. Katanya sih Goa Gong adalah goa dengan stalakmit dan stalaktit terindah se asia tenggara … wooowww. Suasana di luar, dari tempat parkir sampai mulut goa, cukup rame pedagang jajanan khas dan souvenir. Di depan mulut goa berkali-kali saya ditawari sewa senter, kebetulan rombongan kami memang ngga ada yang bawa senter. Murah cuma Rp.2000,- bonus guide didalam goa. Kesan pertama setelah 10 meter masuk ke dalam mulut goa adalah pengap … pyuh… benar-benar pengap. Blower besar yang diletakkan di sudut-sudut goa juga tidak banyak membantu apalagi banyak blower yang mati. Lebih jauh masuk ke perut goa, saya takjub dengan komposisi stalakmit dan stalaktit yang ada … wooww… ditambah dengan penerangan ala panggung yang warna-warni menambah daya tarik yang ada di perut goa ini. Kalau bukan karena pengap yang tidak ketulungan bisa berjam-jam saya di dalam goa …
.
Perjalanan saya lanjutkan ke kota Pacitan, sekitar 1 jam waktu tempuh dari Goa Gong ke kota. Tujuan utama di kota ini adalah mencari makan siang dan bekal makan malam. Ya, saya dan rombongan berencana untuk camping di pinggir pantai pada malam harinya. Dalam perjalanan ke pusat kota, saya dibuat kagum oleh pemandangan pantai yang saya lihat dari atas bukit. Pantai Talang Ria namanya, tapi bukan di pantai ini kami akan mendirikan tenda.
Amunisi sudah didapat, saatnya saya dan rombongan menuju Pantai Klayar. Sebelum itu kami sempat mampir ke pemandian air panas *saya lupa namanya* . Jalan menuju pantai bergelombang *rusak agak parah sih sebenernya*, cukup membuat saya yang duduk di kursi deretan paling belakang mual-mual dan pusing. Tapi masa bodoh dengan mual dan pusing, saya sudah tidak sabar membuktikan dengan mata kepala sendiri keindahan Pantai Klayar ini. Teman saya bilang Pantai Klayar ini lebih bagus dari pantai-pantai yang ada di deretan pesisir Wonosari.
Hampir 2 jam perjalanan dari pusat kota, akhirnya kami sampai juga. Sudah hampir maghrib saya tiba di pantai. Setelah meminta ijin penjaga pantai *Pak Wakijan namanya* kami segera mendirikan tenda berlomba dengan malam yang segera datang. Pak Wakijan memberi beberapa wejangan untuk hati-hati bermain di tepi pantai karena ombak sedang tinggi . Kami pun dilarang menjelajah bibir pantai sebelum besok pagi beliau datang, karena ada beberapa tempat yang menurut beliau sangat berbahaya.
Langit semakin pudar, walaupun tidak terdengar adzan maghrib saya tahu bahwa waktu maghrib sudah tiba. Setelah sholat Maghrib dan Isya’ plus makan malam teman-teman saya menyibukkan diri mereka. Ada yang membuat api unggun, bermain baling-baling atau sekedar berfoto bersama. Saya memilih untuk segera tidur lebih awal. Dengan harapan besok pagi lebih segar untuk menjelajah pantai.
Malam terasa begitu panjang, namun pagi akhirnya datang juga. Usai sholat Subuh tenda dan perlengkapan menginap lainnya kami bereskan. Kami mulai menjelajah ke bagian barat pantai. Disana ada tebing batu yang tinggi, dari atas kami bisa melihat kuatnya ombat menghantam dinding tebing. Agak sedikit takut sebenarnya saya ditempat itu, tebing itu dari susunan batu padas yang kelihatannya tidak begitu tahan lama dihempas ombak kuat.
Dari atas tebing saya melihat hamparan pantai yang begitu eksotik. Wooowww … Pantai pasir putih yang masih alami.
Puas berfoto di atas tebing kami menjelajah ke arah timur. Dan yang kami dapatkan adalah pemandangan yang luar biasa. Ombak besar menghantam karang kokoh menciptakan air terjun kecil diantara karang-karang itu. Saya begitu takjub dengan pemandangan ini. Tidak hanya sampai disitu Pak Wakijan juga mengatakan bahwa kami bisa melihat air mancur jika kami naik ke tebing disebelah timur. Penasaran dengan bentuk air mancur itu kami langsung naik ke atas tebing. Dan wooowww… air menyembur dari sela-sela karang ketika ombak menghantam, seperti melihat ikan paus menyemburkan air dari atas kepalanya.
Matahari sudah begitu terik, setelah mandi kami langsung pulang ke Jogja. Jalan yang kami lewati kali begitu halus tidak seperti saat berangkat *ternyata ada juga rute jalan yang bagus* … waaahhh kalau begini mungkin kapan-kapan saya akan kembali lagi ke Pantai Klayar
.
1 Response to Pacitan and Awesome Beach
Adi Wirawan
August 12th, 2009 at 7:49 pm
Lha oleh – oleh e opo?