In: Buku
11 Oct 2009Berawal dari keinginan belajar bahasa surga, saya dipertemukan dengan novel ini. Sebelumnya juga udah pernah denger sih, tapi dasar masih ogah-ogahan beli buku. Akhirnya baru beberapa hari kemaren beneran beli novel ini.

Ceritanya dengan alasan yang ngga’ jelas dan cuma kepingen, saya pengen belajar bahasa arab. Bertanya dengan eyang google saya dikenalkan dengan arabic.web.id. Dari arabic.web.id saya baru tahu kalau sebenarnya secara tidak langsung dan tidak sadar dulu saya pernah belajar bahasa arab. Dengan tetangga saya, mas heri kami biasa memanggilnya. Kami, beberapa teman sepermainan belajar ilmu agama. Sebagai alumnus pondok di daerah jawa timur (saya lupa kotanya) semangat menyebarkan ilmu Allah selalu membara dalam diri beliau. Dan kamilah yang menjadi “tumbal” semangat beliau.
Mulai dari belajar Iqra’ jilid 1, tajwid, fiqih, dll. Waktu itu saya inget pernah membahas tentang nahwu dan sharaf. Ternyata menurut arabic.web.id kalau mau belajar bahasa arab ya harus belajar nahwu dan sharaf ini dulu (ooo… jadi begitu). Materi yang ada di arabic.web.id sangat bagus karena materi yang ada didalamnya adalah terjemahan dari kitab aslinya (kitab asli untuk belajar bahasa arab di pondok-pondok). Tapi saya pikir sepertinya belajar sendiri (tanpa guru) kurang seru. Akhirnya saya minta teman saya, Friend, untuk jadi ustad saya. Sebagai lulusan Gontor, ngakunya sih Friend fasih berbahasa arab.
Beberapa kali saya tagih, Friend malah bingung. Dia bingung gimana caranya buat ngajari saya. Sampai dia menyuruh saya membaca novel Negeri 5 Menara dulu, supaya saya tahu bagaimana cara belajar yang dulu pernah dia lakukan di Gontor. Singkatnya dengan setengah terpaksa dan rela saya beli Novel itu.
Ditulis oleh A. Fuadi, novel ini bercerita tentang petualangan beberapa sahabat dalam menempuh pendidikan di Pondok Madani (Gontor). Tokoh utama 6 orang anak nusantara yang berbeda daerah asal dan budaya menjadi warna dalam novel ini. Sekilas membaca novel ini saya teringat dua novel lain yang pernah saya baca. Laskar Pelangi yang saya putuskan untuk tidak lagi membaca sequelnya dan seri terakhir Harry Potter and The Deathly Hallows.
Mengingatkan saya pada Laskar Pelangi karena kesamaan semangat yang dimiliki oleh keenam sahabat, yang di novel biasa disebut dengan sahibul menara, dengan sepuluh anak dari pulau belitong itu. Semangat untuk saling mendukung satu sama lain dalam menuntut ilmu. Semangat untuk mewujudkan impian. Pun mengingatkan saya pada sosok Lintang, seorang anak briliant yang terpaksa putus sekolah karena harus mengurus keluarga setelah ayahnya wafat. Dalam sahibul menara ada sosok Baso yang memutuskan pulang untuk selamanya dari Pondok Madani untuk berbakti mengurus neneknya, satu-satunya keluarga yang dia punya, yang sedak sakit keras. Walaupun pada akhirnya Baso lebih beruntung dari pada Lintang, sebagai seorang Hafidz Baso berhak atas beasiswa penuh untuk kuliah di Mekah.
Dengan menerapkan sistem belajar 24 jam, semua kegiatan dilakukan di dalam Pondok Madani. Mulai dari sekolah, kegiatan ekstra, kegiatan keseharian, makan, tidur juga didalam pondok. Ini mengingatkan saya akan Hoghwarts. Sekolah sihir tempat Harry, Hermione dan Ron belajar. Semua kegiatan Harry dan kawan-kawan juga dilakukan di dalam Hoghwarts selama setahun penuh.
Bahasa dan alur cerita novel ini lebih ringan, tidak seperti laskar pelangi dengan bahasa yang terlalu tinggi. Secara keseleruhan cukup menarik untuk dibaca.
Kembali ke bahasa arab. Ternyata setelah saya baca novel ini kunci sukses santri Pondok Madani menguasai bahasa arab dan bahasa inggris adalah penggunaan kedua bahasa asing itu dalam kehidupan sehari-hari. Seminggu sekali secara bergantian bahasa arab dan inggris digunakan sebagai bahasa pergaulan. Adanya ‘jasus bahasa’, pengawas penggunaan bahasa dalam keseharian turut mendukung cepatnya penguasaan bahasa mereka. Ditambah dukungan sesama santri, dan para santri senior yang tak sungkan berbagi ilmu. Tidak ada ejekan karena salah ucap atau gramar yang buruk.
Tapi semuanya kembali kepada individu masing-masing karena sesunggunya ‘Man Jadda wajada’, siapa yang bersungguh-sungguh maka dia yang akan berhasil .Sekarang tinggal kapan saya akan mulai belajar bahasa arab lagi ?!
1 Response to Negeri 5 Menara: Antara Belitong dan Hoghwarts
mybrainsgrowell
October 12th, 2009 at 1:36 am
Sebagai lulusan Gontor, ngakunya sih Friend fasih berbahasa arab.
#si fren gak sampe lulus neng gontor. hahaha..
aku duwe bukune juga.. bagus.